Posted by : Unknown
Kamis, 11 September 2014
Selamat malam Indonesia, senang rasanya saya bisa menyambut malam ditemani kerlap-kerlip perkotaan di balik tirai jendela yang setengah terbuka itu. Perkotaan? Ya, saya berada di perkotaan. Saya tidak lagi berada di sebuah desa yang telah membesarkan saya selama 15 tahun lamanya. Begitupun dengan asrama yang sudah menjadi rumah kedua saya selama 3 tahun bersua di sana. Lalu, saya di mana?
Hei, apakah kalian pernah merasakan bagaimana menjadi seorang mahasiswa? Saat ini saya merasakannya. Baru dua bulan yang lalu saya resmi lulus dari sebuah sekolah menengah atas, kini saya sudah menapaki sebuah kampus terkenal di Indonesia. Bukan sekedar menapaki tanah lalu lewat begitu saja lho. Saya benar-benar berada di sana, benar-benar menjadi seorang civitas cendikia yang mulai berpikir demi bangsa.
Ho, tinggi sekali ucapan saya. Akan tetapi, apa yang saya rasakan selama kurang lebih sebulan berada di kampus ITB ini (perlukah saya menyebutkan kepanjangannya?), menyadarkan saya dari jauhnya harapan dengan realita.
Saya selama ini adalah seorang yang apatis. Saya menyadarinya memang sejak lama. Namun, tak pernah sekalipun terbersit di pikiran saya untuk menjadi sedikit lebih peka. Dulu iya, saat masa-masa pembangunan SMA yang memaksa saya menjadi pribadi yang berbeda. Maksud saya bukanlah pribadi yang pocker face, melainkan pribadi yang jauh lebih baik dari orang lain.
Kata orang, biarkan orang menilai, kita cukup berbuat. Benar, saya tidak pernah menyalahkan pribahasa itu. Sayangnya bila bukan saya yang mengintropeksi diri saya sendiri, lalu siapa? Tidak selamanya apa yang orang pikirkan sama dengan realita yang ada. Bukankah pendapat satu orang dengan satu orang lainnya itu berbeda. Daripada tidak sesuai dengan hati nurani, kenapa tidak dimulai dari diri sendiri?
Tampaknya saya mulai ngelantur. Saya hanya cukup bingung untuk mencari diksi demi diksi untuk menyusun karya yang sesungguhnya adalah manifestasi semu dari sebuah tugas. Tugas apa? Membuat postingan di blog? Ho, itu sudah lama sekali. Lagipula, blog ini bukanlah blog pertama yang saya buat. Blog ini khusus untuk menandai masa baru dalam hidup saya.
Lalu, tugasnya apa Io?
Membuat sebuah catatan tentang Persma ITB.
Kukira, kau tidak cukup stabil untuk menjadikan ini sebagai wadah unek-unekmu di ITB!
Memang, setidaknya saya akan mencoba menjadi lebih stabil dari sebelumnya. Saya memang tidak yakin postingan yang akan saya publikasikan adalah hal-hal berbau Persma ataupun ITB, tetapi saya ingin mencoba. Saya rasa menambahkannya dengan bumbu-bumbu fiksi bukanlah masalah.
Kau ingin mencampurkan konsep itu lagi?
Tidak. Bagi saya, menulis adalah nafas. Apapun yang terlahir darinya akan selalu berguna, entah untuk orang yang baik atau buruk. Terlebih, jika orang beruntung yang bahagia karena tulisan itu adalah saya, maka tidak segan saya melakukan.
Keakuanmu sungguh tinggi.
Mungkin. Setidaknya membiarkan diri melepas lelah dan stress masih lebih baik daripada mengubur bahkan membunuhnya. Karena itu, saya hanya akan menuliskan apa yang ada di pikiran saya. Entah beralur atau tidak, saya hanya berharap ada yang menikmatinya selain saya.
Hei, apakah kalian pernah merasakan bagaimana menjadi seorang mahasiswa? Saat ini saya merasakannya. Baru dua bulan yang lalu saya resmi lulus dari sebuah sekolah menengah atas, kini saya sudah menapaki sebuah kampus terkenal di Indonesia. Bukan sekedar menapaki tanah lalu lewat begitu saja lho. Saya benar-benar berada di sana, benar-benar menjadi seorang civitas cendikia yang mulai berpikir demi bangsa.
Ho, tinggi sekali ucapan saya. Akan tetapi, apa yang saya rasakan selama kurang lebih sebulan berada di kampus ITB ini (perlukah saya menyebutkan kepanjangannya?), menyadarkan saya dari jauhnya harapan dengan realita.
Saya selama ini adalah seorang yang apatis. Saya menyadarinya memang sejak lama. Namun, tak pernah sekalipun terbersit di pikiran saya untuk menjadi sedikit lebih peka. Dulu iya, saat masa-masa pembangunan SMA yang memaksa saya menjadi pribadi yang berbeda. Maksud saya bukanlah pribadi yang pocker face, melainkan pribadi yang jauh lebih baik dari orang lain.
Kata orang, biarkan orang menilai, kita cukup berbuat. Benar, saya tidak pernah menyalahkan pribahasa itu. Sayangnya bila bukan saya yang mengintropeksi diri saya sendiri, lalu siapa? Tidak selamanya apa yang orang pikirkan sama dengan realita yang ada. Bukankah pendapat satu orang dengan satu orang lainnya itu berbeda. Daripada tidak sesuai dengan hati nurani, kenapa tidak dimulai dari diri sendiri?
Tampaknya saya mulai ngelantur. Saya hanya cukup bingung untuk mencari diksi demi diksi untuk menyusun karya yang sesungguhnya adalah manifestasi semu dari sebuah tugas. Tugas apa? Membuat postingan di blog? Ho, itu sudah lama sekali. Lagipula, blog ini bukanlah blog pertama yang saya buat. Blog ini khusus untuk menandai masa baru dalam hidup saya.
Lalu, tugasnya apa Io?
Membuat sebuah catatan tentang Persma ITB.
Kukira, kau tidak cukup stabil untuk menjadikan ini sebagai wadah unek-unekmu di ITB!
Memang, setidaknya saya akan mencoba menjadi lebih stabil dari sebelumnya. Saya memang tidak yakin postingan yang akan saya publikasikan adalah hal-hal berbau Persma ataupun ITB, tetapi saya ingin mencoba. Saya rasa menambahkannya dengan bumbu-bumbu fiksi bukanlah masalah.
Kau ingin mencampurkan konsep itu lagi?
Tidak. Bagi saya, menulis adalah nafas. Apapun yang terlahir darinya akan selalu berguna, entah untuk orang yang baik atau buruk. Terlebih, jika orang beruntung yang bahagia karena tulisan itu adalah saya, maka tidak segan saya melakukan.
Keakuanmu sungguh tinggi.
Mungkin. Setidaknya membiarkan diri melepas lelah dan stress masih lebih baik daripada mengubur bahkan membunuhnya. Karena itu, saya hanya akan menuliskan apa yang ada di pikiran saya. Entah beralur atau tidak, saya hanya berharap ada yang menikmatinya selain saya.

