Posted by : Unknown
Kamis, 11 September 2014
Tanggal 7 September kemarin, saya mengikuti sebuah unit yang sejak dulu memang saya ingin ikuti. Unit yang saya pikir dapat meluruskan mind-set saya mengenai kepekaan dan tanggapan global, unit yang juga saya harapkan memperbaiki sikap egoisme dan apatis saya.
Mungkin kalian akan berpikir, bukankah unit memang ada untuk membuat seseorang menjadi lebih peka, lebih bermasyarakat? Karena unit sesungguhnya adalah sebuah keluarga yang sekalipun tidak terikat darah, tetapi terikat oleh sebuah atau lebih ketertarikan yang sama. Atraksi yang akhirnya berubah menjadi atensi hingga tak sadar satu sama lain saling bergantung.
Oh, saya mulai lagi. Mengetik sesuatu di pagi-pagi buta cukup membuat otak saya memiliki gradien. Tak terlalu besar, namun secuil harga itu entah memperlambat atau malah mempercepat kerja otak saya.
Kembali lagi ke pertanyaan, unit apa?
Saya mengikuti banyak unit. Saking banyaknya, minggu pertama saja saya sudah bingung dengan jadwal baru yang sudah saya ciptakan. Bayangkan saja, hanya Selasa hari saya benar-benar bebas dari yang namanya unit. Indah bukan?
Mari saya ceritakan tentang unit terakhir yang saya daftarkan ketika OHU (Open House Unit).
Persma sebuah akronim dari Pers Mahasiswa, sebuah unit di ITB yang bergerak dalam bidang pers. Bukannya saya ikut-ikutan, sejak awal saya memang memiliki afeksi sendiri terhadap bidang ini. Hanya saja, jadwal kegiatan di SMA tak mentoleransi saya untuk terjun mengikuti pers ini. Sepertinya Tuhan tahu batas kemampuan saya. Saya yakin saya akan lebih sering sakit jika berada dalam kompleks kegiatan terstruktur itu di SMA sebelumnya.
Saya tidak bercanda ketika mengatakan saya mengikut Persma. Memang, dua kali saya telah dengan lancang terlambat mengikuti rangkaian acara yang disuguhkan untuk para Cakra (calon kerabat). Namun, setidaknya saya masih mengikuti dibandingkan tidak sama sekali.
Hei, hari pertama sudah apa saja yang kaudapatkan?
Banyak. Saya tahu mengenai arti dan logo Persma, walaupun sejatinya saya baru mengetahuinya saat post test. Logo Persma yang berbentuk seperti gajah melambangkan ITB, sedangkan garis-garis di sekelilingnya merupakan bulu angsa yang melambangkan pers atau jurnalistik. Di bawahnya terdapat tulisan Pers Mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Ciri khas pers kami. Logo yang sederhana, namun sarat makna. Bukankah pers memang seperti itu? Jika menggunakna bahasa yang sulit, bagaimana masyarakat (mahasiswa) bisa mengerti apa yang disampaikan?
Jangan bilang hanya itu yang kauketahui.
Tidak. Saya mengenal struktur kerja Persma. Divisi-divisinya, fungsi dan kewajibannya pula. Sama seperti pers di belahan dunia manapun, Persma juga memiliki empat fungsi yaitu:
1. Media informasi
2. Media pendidikan
3. Media hiburan
4. Media kontrol sosial
Kaudapat itu darimana? Bukankah itu fungsi secara nasional? Semua orang juga tahu!
Baiklah. Bagaimana kalau saya jelaskan tujuan dibentuknya Persma yang tak lain adalah menciptakan suasana kondusif kemahasiswaan yang berperan untuk menjaga iklim demokrasi dan fungsi kontrol organisasi. Sedangkan divisi-divisinya sendiri ada enam.
1. Divisi redaksi, yang membuat dan mengolah berita,
2. Divisi artistik, yang bertugas membuat berita menjadi atraktif.
3. Divisi perusahaan, yang bertugas mengontrol publishing.
4. Divisi litbang, salah satu yang saya sukai karena pekerjaannya mensurvei dan mencari korelasi antarfakta
5. PSDA, menurut saya divisi ini cukup berat karena harus menjamin seluruh anggota persma dapat mengoptimalkan bakatnya. Saya harap, saya bisa tumbuh sesuai dengan harapan.
6. Internal dan Eksternal. Divisi yang menjadi penghubung antaranggota baik itu di dalam tubuh Persma maupun di luar sayapnya.
Namun, hal yang mengiris hati saya adalah kenyataan bahwa semua divisi harus dan wajib bekerjaa sama untuk mencapai tujuan tersebut. Inilah yang saya cari mengingat saya sangat lemah dalam melakukan tugas nonindividual.
1. Divisi redaksi, yang membuat dan mengolah berita,
2. Divisi artistik, yang bertugas membuat berita menjadi atraktif.
3. Divisi perusahaan, yang bertugas mengontrol publishing.
4. Divisi litbang, salah satu yang saya sukai karena pekerjaannya mensurvei dan mencari korelasi antarfakta
5. PSDA, menurut saya divisi ini cukup berat karena harus menjamin seluruh anggota persma dapat mengoptimalkan bakatnya. Saya harap, saya bisa tumbuh sesuai dengan harapan.
6. Internal dan Eksternal. Divisi yang menjadi penghubung antaranggota baik itu di dalam tubuh Persma maupun di luar sayapnya.
Namun, hal yang mengiris hati saya adalah kenyataan bahwa semua divisi harus dan wajib bekerjaa sama untuk mencapai tujuan tersebut. Inilah yang saya cari mengingat saya sangat lemah dalam melakukan tugas nonindividual.
Kaubeberkan keakuanmu lagi?
Bukan masalah. Saya merasa dengan ini mungkin saya layak mendapatkan posisi yang sesuai untuk pribadi saya.
Lalu, apa lagi?
Oh, saya lupa memberitahu. Persma bergerak dalam bidang pers sehingga produk-produknya pasti akan berbau pers. Ganecapos adalah nama koran kami. Kalian bisa menemukannya secara online di www.ganecapos.com . Twitter, Facebook dan yang lainnya bisa kalian temukan dengan cara mengetikan kata kunci ganecapos di google.
Promosi?
Keberatan? Sudah menjadi kewajiban saya untuk mempromosikan apa yang menjerat atensi saya. Setidaknya, sekalipun seandainya saya beristirahat di tengah jalan, saya masih berguna untuk apa yang saya ikuti.
Apa lagi yang harus saya katakan?
Banyak. Akan tetapi, saya harus sedikit bersabar mengais materi lebih dalam lagi. Lagipula, hari itu adalah kaderisasi pertama Persma. Masih banyak yang harus saya pelajari untuk bisa benar-benar berkembang di bidang itu. Jadi, setidaknya, biarkan saya mencoba.
Tertanda,
L. P. Viona D.

