Posted by : Unknown Jumat, 26 September 2014

Semakin lama, semakin banyak pula kegiatan yang harus saya lakukan. Bahkan, akhir-akhir ini saya seperti melepaskan semua unit yang saya sangat sukai. Saya tahu, harus ada pengorbanan bila saya memang ikut perlombaan. Hah! Perlombaan,

Agak sulit saya terangkan jika itu memang hanya perlombaan biasa, ada yang menang, ada yang kalah. Adu kepintaran. Selesai.

Itu seharusnya.


Tapi, untuk kali ini, saya mengikuti jejak-jejak pikiran saya yang dulu memang sudah diset untuk pembuatan karya tulis. Hasrat saya di bidang itu masih sama seperti dulu. Mungkin kalau Tuhan tidak memberikan jalan, saya tidak akan sampai ke tahap ini.

Oh ya, kemarin ketika saya meminta tanda tangan, saya senpat kehilangan hape. Sekarangpun saya tidak tahu di mana ada HP saya berada. Pikun? Anggaplah demikian. Orang tidak akan bermaksud menghilangkan kepemilikannya dengan sengaja bukan?

Curhatan pagi ini begitu singkat. Mungkin karena kemarin sudah saya habiskan waktu saya dengan pura-pura tegar, mengokohkan diri. Sayangnya, sisi lemah saya tidak pernah bisa munafik. Air mata kembali turun dengan sendirinya.

Ah, maaafkan saya. Saya harus meminta maaf pada pihak persma. Saya tidak bermaksud untuk tidak mengikuti kegiatan kaderisasi yang dari awal tidak pernah becus saya lakukan. Saya tidak punya pilihan untuk melepasnya.

Berbicara mengenai itu, seminggu yang lalu saat kaderisasi ketiga, saya dilema. Akhirnya saya tetap mengikuti seleksi dan ikut juga dengan persma. Walaupun hanya sejam, catatan dari teman rasanya sudah cukup untuk membuat saya membayangkan apa yang terjadi dari pagi hingga sore itu.

-------------------------------------------akhir curhatan------------------------------------------------------------------------------------------------------awal laporan kegiatan--------------------------------------------------------

Bapak Budiono Kartohadiprodjo, dosen tamu Fisika Teknik ITB, Pembina Pers Mahasiswa yang sekaligus Pendiri dan Direktur Umum Majalah Gatra memberikan materi mengenai apa pers itu sebenarnya. Beliau yang terlibat banyak dengan jurnalistik memberi arahan bahwa pers juga dapat menjadi alat pemerintah. Tapi, inti dari semua itu adalah pers bukan orang yang malas. Ia tidak menunggu berita tetapi mencari berita.

 Kedua adalah Suara Mahasiswa dari Pers Mahasiswa Universitas Islam Bandung. (Saya datang tepat setelah mereka selesai memberikan materi)  Sebagai teman seperjuangan (pers), mereka memberikan materi bahwa pers bisa jadi sebuah investigasi yang waktu meliputnya tidak terhitung kiranya. Yah, kalau di pikiran saya ini jadi sebuah penelitian yang laporannya bukanlah laporan akhir tetapi liputan akhir. Yah, pekerjaan menulis memang paling hebat.

Selanjutnya komune Rakapare. Untunglah saya hadir saat mereka memberi materi. Pertama terdapat video tentang perjuangan mereka mendirikan komunitas ini. Komunitas ini bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab dan peran serta generasi muda bangsa. Di mata saya, mereka luar biasa.

Bagaimana pengaturan waktu mereka jika dibandingkan dengan saya yang bahkan tugaspun dibuat H-beberapa jam. Saya deadliner asli. Mereka organisator dan inspirator. Seingat saya, mereka sedang berusahan mengumumkan pada dunia bahawa ada beberapa daerah di Indonesia yang membutuhkan pertolongan. Bayangkan, satu desa terancam kehilangan pekerjaan. Desa itu adalah Karawang.

Saya harap pada siapapun yang membaca artikel ini bisa ikut terketuk hatinya untuk membantu komune ini. Bagaimanapun juga, Rakapare membantu masyarakat dengan memborbardir berita dan situs online. Ide yang cukup cerdik.

Saya tidak tahu harus menulis apa lagi. Saya rasa setelah kaderisasi ini saya baru bisa serius menekuni dunia apa yang ingin saya jalani. Doakan HP saya berada di tangan orang yang baik, di tangan orang yang mau mengembalikan HP beserta isinya kepada lembaga di kampus, atau lebih bagus lagi kalau mengembalikannya langsung pada saya. Hayolah, di HP itu ada banyak sekali data diri saya seperti ATM, KTM, dan KTP. Saya tidak bisa hidup bila saya tidak menemukannya.

Oke, saya ralat. Saya kehilangan dompet yang isinya cukup lengkap. Saya harap siapapun yang menemukannya berbaik hati mengembalikannya kepada saya. Terima kasih.

----------------------------------------------------akhir laporan----------------------------------------------------
----------------------------------------------------akhir curhatan sesi dua----------------------------------------

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Blogger templates

Blogroll

Copyright © Sekilas Renungan Pagi -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by JD design_asked to io