Posted by : Unknown
Kamis, 11 September 2014
Ada banyak hal yang menjadi bahan pemikiran saya. Salah satunya adalah, mengapa saya selalu ingin menorehkan huruf demi huruf di lembar kosong yang maya itu sedangkan saya mempunyai segunung tugas yang minta diperhatikan. Saya juga bingung, sungguh.
Saya hanya berpikir bahwa apa yang saya inginkan sebenarnya bukanlah sebuah hal yang sepele. Stress yang mulai melanda saya membuat saya harus berpikir dua kali untuk menghindari kerutan di wajah dan penuaan dini. Saya parno terhadap wajah saya sendiri yang tiap kali bangun tidur selalu terlihat seperti mayat hidup. Pucat. Tak bersemangat.
Seringkali saya menghibur diri dengan menatap tingkah teman-teman yang konyol. Tertawa. Benar, saya tertawa. Namun, terkadang tawa itu terasa hambar. Lebih mirip bubur ayam tanpa garam, enak tapi tak gurih. Kadang saya justru tersadar ketika air mata menetes dengan sendirinya. Tak masuk akal. Menangis tanpa alasan itu tak masuk akal.
Namun, setidaknya, itu masih lebih baik daripada saya harus mengurung diri dan membunuh kelemahan hati saya.
Pikiran saya selalu menerawang. Terkadang berjalan lurus, terkadang berlika-liku.
Mungkin ini karma karena saya sudah berhenti dari meditasi. Saya rasa stress selama dua bulan penantian yang tak kunjung sembuh karena meditasi kini bergumul di dalam isi kepala saya, meminta keluar, meminta lepas. Harusnya saya sadar itu lebih dulu. Pikiran saya sudah lelah untuk memahami isi hati saya yang semakin berubah.
Yah, hati dan pikiran kadang sulit bersatu.

